Gambar Minggu ini




Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah, dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah, khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling.

Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah, aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Kendati demikian, harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. Sebagai lembaga pendidikan, justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya.


Oleh karena itu, disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera, penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun, tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah, sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik.

Secara visual, kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini:

Dengan melihat gambar di atas, kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut, meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. Oleh karena itu, kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi.

Sebagai ilustrasi, misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas, sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian, siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin, mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling, maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya, diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya, misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi, keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya, keinginan untuk melanjutkan sekolah, serta hal-hal positif lainnya, meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah.

Perlu digarisbawahi, dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah, dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya.

Lebih jauh, meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan, pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. Dalam hal ini, perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). Dalam hal ini, Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya, sebagaimana dalam bagan berikut :

1. Masalah (kasus) ringan, seperti: membolos, malas, kesulitan belajar pada bidang tertentu, berkelahi dengan teman sekolah, bertengkar, minum minuman keras tahap awal, berpacaran, mencuri kelas ringan. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah.
2. Masalah (kasus) sedang, seperti: gangguan emosional, berpacaran, dengan perbuatan menyimpang, berkelahi antar sekolah, kesulitan belajar, karena gangguan di keluarga, minum minuman keras tahap pertengahan, mencuri kelas sedang, melakukan gangguan sosial dan asusila. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor), dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah, ahli/profesional, polisi, guru dan sebagainya. Dapat pula mengadakan konferensi kasus.
3. Masalah (kasus) berat, seperti: gangguan emosional berat, kecanduan alkohol dan narkotika, pelaku kriminalitas, siswa hamil, percobaan bunuh diri, perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater, dokter, polisi, ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus.

Secara visual, penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini:

Dengan melihat penjelasan di atas, tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. Artikel di ambil dari http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/08/penanganan-siswa-bermasalah-di-sekolah/

Baca Selengkapnya....

Liputan6.com, Jakarta: Ujian Nasional masih akan diadakan tahun ini. Demikian dinyatakan Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh di Jakarta, Kamis (26/11), menyusul keputusan Mahkamah Agung yang membatalkan pelaksanaan Ujian Nasional bagi siswa sekolah. Pemerintah juga tetap akan menempuh upaya hukum terakhir dengan mengajukan peninjauan kembali terhadap putusan MA tersebut [baca: Pemerintah Akan Ajukan PK Pembatalan Ujian Nasional]ss.

Liputan6.com, Jakarta: Ujian Nasional masih akan diadakan tahun ini. Demikian dinyatakan Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh di Jakarta, Kamis (26/11), menyusul keputusan Mahkamah Agung yang membatalkan pelaksanaan Ujian Nasional bagi siswa sekolah. Pemerintah juga tetap akan menempuh upaya hukum terakhir dengan mengajukan peninjauan kembali terhadap putusan MA tersebut [baca: Pemerintah Akan Ajukan PK Pembatalan Ujian Nasional].

Sementara sebagian kepala sekolah dan guru di Bali mengaku belum mendapat petunjuk dari Dinas Pendidikan menyusul pembatalan UN. Kepala Sekolah Menengah Pertama Saraswati I, Bali, Agung Adyani, misalnya. Ia mengaku belum mendapat pemberitahuan resmi mengenai masalah ini. Namun bilapun UN ditiadakan, Agung mendukung dan bersyukur karena tidak lagi menjadi beban bagi para siswa.

Hal serupa juga disampaikan guru SMP Negeri 6 Temanggung, Jawa Tengah, Rososarkoro. Dia menentang pelaksanaan UN karena terlalu banyak merugikan dunia pendidikan.

Berbeda dengan Kepala Sekolah Dasar Sampangan Semarang, Jateng, Damsriyati. Ia menilai pembatalan UN tidak tepat. Walau bagaimanapun, menurut Damsriyati, UN menumbuhkan kompetisi mutu secara positif pada masing-masing sekolah.(ZAQ)

Baca Selengkapnya....



Keberadaan perpustakaan sekolah di suatu sekolah adalah sangat penting. Ibarat tubuh manusia, perpustakaan adalah organ jantung yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh. Bahkan karena sangat pentingnya keberadaan perpustakaan sekolah ini, pemerintah mencanangkan bulan September sebagai bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan.
Perpustakaan sekolah menyediakan informasi dan ide yang merupakan dasar keberhasilan fungsional dalam masyarakat masa kini yang berbasis pengetahuan dan informasi. Perpustakaan sekolah membekali peserta didik berupa keterampilan pembelajaran sepanjang hayat serta imajinasi, memungkinkan mereka hidup sebagai warganegara yang bertanggungjawab. Syarat mutlak peserta didik untuk dapat menggunakan perpustakaan adalah mereka harus bisa membaca dan mempunyai minat baca.


Membaca adalah keterampilan pertama yang diajarkan guru kepada peserta didik di bangku sekolah. Pengertian membaca dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991:72) adalah sebagai berikut: arti kata kerja (verb) baca atau membaca adalah (1) melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati); (2) mengeja atau melafalkan apa yang tertulis; (3) mengucapkan; (4) mengetahui, meramalkan; (5) menduga; memperhitungkan; memahami. Berdasarkan pegertian membaca tersebut ada 4 hal yang menjadi syarat agar kita dapat membaca dengan baik yaitu :
1. Pemahaman Tentang Huruf 3.Pemahaman tentang Gambar/kode
2. Pemahaman Angka 4.Pemahaman Bahasa
Semua bahan pustaka dalam bentuk apapun pada umumnya berisi keempat hal tersebut. Huruf, angka dan gambar disusun dalam suatu bahasa tertentu dan agar lebih menarik perhatian pembacanya biasanya huruf, angka dan gambar disusun dengan lay out yang menarik, dibuat berwarna-warni, dibuat tebal dan tipis dan lain sebagainya agar memudahkan pembaca memahami isi/maksud dari yang tertulis.
Membaca dapat digambarkan sebagai sebuah jendela untuk melihat, mengetahui, memahami dan menduga masa lalu, masa kini dan masa depan dunia. Dari berbagai referensi beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari membaca adalah :
•Meningkatkan kinerja otak IQ, EQ ,SQ.
•Mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas yang kuat.
•Membuka wawasan dunia yang luas dan kaya.
•Menimba pengetahuan.
•Berbagi pengalaman hidup dengan tokoh cerita yang dibaca.
•Mengembangkan keterampilan-keterampilan yang praktis.
•Menumbuhkan nilai etika dan moral sesama manusia.
•Mengekspresikan emosi dan perasaan yang dimiliki.
•Menajamkan daya ingat.
•Mengasah intelektual.
•Mempelajari estetika tulisan dan bahasa.
•Menambah keterampilan berbahasa Indonesia yang baik.
I. Minat Baca
Charles W. Elliot seorang tokoh pendidikan AS yang hidup tahun 1834-1926 mengatakan: “Mau tahu siapa teman paling setia, tidak cerewet, gampang ditemui, sekaligus guru nan bijak dan sabar? Dialah buku.”
Sungguh bijak ungkapan Charles W.Elliot itu. Namun, bagaimana keadaan bangsa kita dalam hal membaca? Berdasarkan laporan World Bank “Educational in Indonesia-From Crisis to Recovery” (1998) kemampuan membaca anak-anak Indonesia masih rendah. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan Vincent Greanary bahwa peserta didik-peserta didik kelas enam SD di Indonesia kemampuan membacanya hanya 51,7 berada di urutan paling akhir setelah Filipina(52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0) dan Hongkong (75,5). (Ki Supriyoko:2004).
Demikian juga kebiasaan membaca pada masyarakat umum juga masih rendah. Salah satu indikatornya adalah jumlah surat kabar yang dikonsumsi oleh masyarakat. Idealnya setiap surat kabar dikonsumsi sepuluh orang, tetapi di Indonesia angkanya 1:45; artinya setiap 45 orang mengonsumsi satu surat kabar. Di Filipina angkanya 1:30 dan di Sri Lanka angkanya 1:38.
Indikator lainnya kebiasaan membaca masih rendah dapat dilihat dari rendahnya pengunjung perpustakaan. Kepala Perpustakaan Nasional, Dady P. Rachmanata, menyampaikan informasi mengenai rendahnya pengunjung perpustakaan nasional dan perpustakaan daerah di seluruh Indonesia. Dari pengunjung yang datang ke perpustakaan itu, yang meminjam buku hanya 10 sampai dengan 20 persen. Jika peminjam buku tersebut diasumsikan yang mempunyai kebiasaan membaca maka tingkat kebiasaan membaca kita baru 10 sampai dengan 20 persen. Padahal di negara maju angkanya mencapai 80 persen. Berdasarkan data di atas dalam soal membaca, masyarakat kita kalah dibandingkan dengan masyarakat negara berkembang lainnya seperti Filipina apalagi dengan negara maju seperti antara lain Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.
UNDP dalam salah satu publikasinya menyatakan, “Human Development Index 2003” (2003), Indonesia ditempatkan di peringkat 112 dari 174 negara dalam hal kualitas bangsa. Dalam daftar tersebut Indonesia di bawah Vietnam (109), Thailand (74), Malaysia (58), dan Brunei Darussalam (31). United Nations Development Programme (UNDP) menjadikan angka melek huruf sebagi salah satu indikator untuk mengukur kualitas bangsa. Tinggi rendahnya angka melek huruf menentukan tinggi rendahnya indeks pembangunan manusia atau Human Development Index (HDI) dan tinggi rendahnya HDI menentukan kualitas bangsa. Dari data di tersebut dapat disimpulkan bahwa kualitas bangsa Indonesia masih lebih rendah dibanding negara tetangga Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Dengan demikian kebiasaan membaca, baik langsung maupun tidak langsung sangat menentukan kualitas bangsa.
II. Peran Perpustakan Sekolah
Hampir dipastikan setiap orang pasti pernah membaca namun intensitas dan efektifitasnya yang berbeda-beda. Jika menengok data-data yang telah dipaparkan pada tulisan di atas dapat disimpulkan secara umum intensitas dan efektifitas membaca masyarakat Indonesia masih rendah. Oleh karena itu sangat penting untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia guna meningkatkan kualitas dan daya saing bangsa. Namun pekerjaan ini tentu tidak semudah membalik telapak tangan karena kita tentu paham bahwa merubah kebiasaan adalah hal yang paling sulit. Solusi yang paling baik adalah dengan memperbaiki kualitas generasi penerus kita yaitu membangun kesadaran masyarakat untuk menumbuhkan dan menanamkan kebiasaan membaca sejak dini (anak-anak). Untuk kepentingan ini ada 3 stakeholder utama yang harus saling bahu membahu untuk menanamkan minat baca sejak dini:
1. Pemerintah/Depdiknas/Sekolah dalam hal pendanaan untuk pembinaan koleksi perpustakan sekolah.
2. Guru sebagai pelaksana pendidikan untuk lebih intensif dalam mendorong dan meningkatkan minat baca pada peserta didik.
3. Orangtua/wali dari peserta didik sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap masa depan si anak harus menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini di lingkungan keluarga. Orang tua sebaiknya memberikan teladan bagi putra putrinya untuk gemar membaca. Sesuai dengan prinsip psikologi bahwa cara bertindak seseorang akan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang terekam dalam memori otaknya semasa kecil.
Di sekolah guru dapat mengajak peserta didik untuk membaca/menelaah buku-buku yang menarik di perpustakaan dan memberi tugas yang sumbernya dicari di perpustakaan. Guru dapat pula mewajibkan peserta didik membaca sebuah buku setiap minggu, dan orang tua wajib menandatangani laporannya. Guru dibantu pustakawan sebaiknya mengajarkan juga kepada peserta didik bagaimana menggunakan perpustakaan; mengenal, mencari, mengumpulkan, mengorganisasikan informasi, dan menyajikan hasil informasi yang dibutuhkan.
Sekolah dapat menumbuhkan minat baca peserta didik dengan menjadikan perpustakaan bersifat aktif dan kondusif. Perpustakaan sekolah dapat mengadakan kelompok (club) baca, hari baca, wajib baca, jam baca dalam seminggu, bedah buku, story telling, berbagai macam perlombaan misal: membuat cerpen, membuat dan baca puisi, bedah buku, dsb. Untuk merangsang peserta didik agar rajin berkunjung ke perpustakaan dan meminjam buku, perpustakaan sekolah dapat memberikan hadiah atau penghargaan kepada pengunjung/anggota perpustakaan yang paling rajin datang dan meminjam buku yang diadakan secara berkala, misalnya tiap semester atau tiap tahun.
Jam buka layanan perpustakaan sekolah sebaiknya diatur sedemikian rupa agar peserta didik mempunyai waktu longgar untuk datang ke perpustakaan. Umumnya perpustakaan sekolah buka layanan saat jam istirahat sekolah. Padahal disamping jam istirahat yang sangat terbatas, biasanya pada saat jam istirahat murid banyak yang pergi ke kantin sekolah, musholla dan lain-lain. Untuk mengatasi hal ini, perpustakaan bisa menambah jam buka layanannya saat jam pelajaran telah usai. Jadi peserta didik mempunyai alternatif waktu selain jam istirahat untuk mengunjungi dan mencari informasi yang dibutuhkannya di perpustakaan.
Koleksi perpustakaan sekolah disesuaikan dengan kebutuhan akan informasi peserta didiknya. Tentu kebutuhan akan informasi peserta didik untuk jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas berbeda-beda. Apalagi untuk perpustakaan taman kanak-kanak. Dalam dimensi perkembangan psikologis, anak usia SD bacaanya yang ringan yang lebih untuk tujuan membangun kesenangan membaca. Pada akhir usia anak-anak, isi bacaannya didominasi oleh fungsi pengamatan. Di tingkat SLTP anak bukan lagi membaca untuk kesenangan tapi juga untuk meningkatkan pengetahuan. Sedangkan di SLTA, di usia remaja ini (15-17 tahun) isi bacaan anak di dominasi fungsi penalaran secara secara intelektual.
Perpustakaan sekolah selain mengoleksi buku-buku pelajaran, juga hendaknya memuat buku-buku yang digemari peserta didik (remaja) masa kini, misalnya ”Harry Potter”. Perpustakaan sekolah bisa juga mengoleksi buku komik, fiksi dan cerita rakyat yang bermuatan nilai positif, menarik dan mendidik. Untuk meningkatkan kenyamanan membaca dan agar peserta didik betah di perpustakaan, selama jam buka perpustakaan bisa diperdengarkan musik yang lembut. Ruangan perpustakaan juga diusahakan dilengkapi alat pengatur suhu udara.
Buku paket pelajaran tetap bisa menjadi koleksi buku perpustakaan sekolah. Akan lebih baik lagi kalau perpustakaan sekolah juga mengoleksi buku pendamping pelajaran. Jadi peserta didik mempunyai alternatif bacaan buku pelajaran selain buku paket. Koleksi buku perpustakaan sebaiknya juga spesifik, yaitu buku yang dibutuhkan peserta didik untuk menunjang kegiatan belajar mengajar tetapi sulit diakses oleh peserta didik, baik itu karena harganya mahal atau terbatas.
Undang-undang nomor 25 tahun tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) menjelaskan bahwa perpustakaan merupakan sumber daya pendidikan yang penting dalam upaya meningkatkan kualitas Pendidikan Prasekolah, Pendidikan Dasar dan Menengah. Dalam Renstra Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Departemen Pendidikan Nasional disebutkan bahwa kegiatan pokok dalam upaya peningkatan kualitas Pendidikan Prasekolah, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah diantaranya adalah peningkatan penyediaan penggunaan dan perawatan sarana dan prasarana pendidikan, termasuk buku dan alat peraga pendidikan, perpustakaan dan laboratorium bagi sekolah negeri dan swasta secara bertahap.
Apabila konsep tersebut telah terwujud maka betapa pentingnya perpustakaan di sekolah sehingga merupakan Pusat Sumber Belajar yang begitu besar dalam mendapatkan berbagai informasi dan pengetahuan. Fungsi Perpustakaan Sekolah dengan demikian tidak dapat dipandang remeh. Sekolah harus menyadari betul tentang hal ini sehingga:
1. Sekolah akan berusaha mengembangkan perpustakaannya karena informasi dan pengetahuan baru lebih cepat berkembang dibanding dengan apa yang telah ada di sekolah.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat, maka guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar bagi peserta didik namun beralih fungsi untuk memfasilitasi belajar mengajar peserta didik.(Sumardjo, 2004:2)
Membangun perpustakaan sekolah yang bermutu membutuhkan dana yang cukup besar, berbagai aspek perpustakaan yang harus dipenuhi, meliputi status perpustakaan, ruang perpustakaan, tenaga terampil, sarana dan prasarana, koleksi, layanan, pengguna perpustakaan, dana dan lain-lain. Pemerintah seharusnya menyediakan sarana tersebut dan hal itu merupakan bentuk kepedulian pemerintah dalam pengembangan Perpustakaan Sekolah agar berfungsi sebagaimana mestinya.
III. Penutup
Perpustakaan sebagai jantung suatu lembaga pendidikan yang memiliki kekuatan dan kemampuan yang langsung mempengaruhi hasil pendidikan serta menentukan masa depan pendidikan itu sendiri. Perpustakaan sebagai pusat kegiatan belajar, sehingga mutu perpustakaan menentukan mutu pendidikan di suatu lembaga pendidikan. Perpustakaan dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperluas dan menghidupkan pembelajaran. Dengan mengoptimalkan peran dan fungsi perpustakaan sekolah, otomatis memupuk dan meningkatkan minat baca peserta didik. Minat baca akan menjadi budaya baca yang dapat meningkatkan kualitas generasi muda ke arah yang lebih baik lagi dan tentunya dapat meningkatkan kualitas bangsa. Telah terbukti, jika para pustakawan dan guru bekerja sama, maka pesrta didik akan mencapai tingkat literasi, kemampuan membaca, belajar, memecahkan masalah serta keterampilan teknologi informasi dan komunikasi yang lebih tinggi.


Baca Selengkapnya....


Membangun Moral Untuk Kemajuan Bangsa

Dahulu bangsa Indonesia dikenal karena moral rakyatnya yang berbudi pekerti luhur, santun dan beragama. Sayang citra baik ini tidak di jaga. Perlu diingat modal kemajuan suatu bangsa sangat didukung generasi yang cerdas, bijak dan bermoral.

Walau tidak dipungkiri ada upaya dari pemerintah untuk tetap membangun dan meningkatkan kecerdasan dan moral rakyatnya. Salah satunya dengan memberlakukan pembelajaran kewarganegaraan atau pancasila di sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Tapi kenapa kita sering mendengar banyak anak sekolah yang suka membolos, berkelahi, mencuri, menyimpan gambar porno bahkan hubungan sek diluar nikah? Adakah ada hal yang salah dalam pendidikan moral di sekolah kita



Penulis berpendapat kalau pemerintah khusunya instansi pendidikan hanya setengah-setengah memandang pentingnya pendidikan moral. Sepertinya pemerintah terkesan sibuk dengan menaik-naikan angka standar saja. Terlihat dengan tidak ikutnya mata pelajaran kewarganegaraan pada Ujian Nasional. Di sisi lain bahkan ada siswa yang masih dapat mengikuti ujian di dalam penjara.

Jangan salahkan siswa bila hanya mementingkan angka-angka Ujian Nasional saja dan berharap dapat melihat siswa mau menyambut gurunya dengan salam bahkan sampai mau membawakan buku atau tas ke ruang guru.

Mengingat pentingnya pendidikan moral maka hal tersebut secepatnya segera dibenahi. Perlu ada keterpaduan antara strategi dan model pembelajaran moral. Pembelajaran moral tidaklah dibatasi dengan banyaknya materi hapalan tapi aplikasi dan keterkinian. Pendidikan moral perlu mengaitkan dengan isu-isu moral yang sedang terjadi di masyarakat. Penyajian materi pendidikan moral hendaknya melibatkan segenap kalangan baik orang tua atau keluarga, lingkungan sosial, sekolah dan tentunya pemerintah.

Guru sebagai fasilitator di sekolah seyogyanya dapat memberikan pemahaman dan penghayatan nilai-nilai pendidikan moral bagi siswa. Guru dapat menjadi teladan yang dapat ditiru. Misalkan saja di dalam kelas saat pelajaran siswa dilarang mengaktifkan HP maka guru pun sama, demikian pula cara dalam menegur siswa yang melakukan kesalahan guru seharusnya dapat menggunakan adab dan sopan santun.

Pemerintah juga seyogyanya memberikan ruang gerak bagi pengembangan pengajaran. Guru tidak perlu di tuntut untuk menyelesaikan materi yang ada tapi sedapat mungkin siswa mampu menerima dan menerapkan pengajaran di lapangan. Standarisasi Ujian Nasional sebatas tingkat kemampuan kognitif saja namun untuk menentukan siswa lulus materi moral gurulah yang seharusnya menentukan. Apakah siswa telah memiliki moral yang baik atau perlu perbaikan (remidial). Jadi siswa lulus tidak sekadar lulus kognitif tapi juga moralnya. Sepertinya siswa yang suka mencotek, menipu dan mencuti sehingga ujian di lakukan di penjara tidaklah pantas lulus

Baca Selengkapnya....
Langganan: Entri (Atom)

Pengikut